Tautan Kehidupan


Suatu hari, hidup sebuah keluarga yang terdiri dari empat orang anggota keluarga. Ayah, ibu, dan dua putri kembar mereka. Ayah bekerja sehari-hari sebagai pengantar susu untuk menghidupi istri dan dua anak kembarnya. Kehidupan mereka amat tentram, sejahtera, sehat, sentosa seperti keluarga biasa pada umumnya. Namun, semua itu berubah setelah kejadian tragis menimpa putri kembar mereka.

Hari itu, ada seorang wanita yang sedang dilanda bertubi-tubi masalah kehidupan. Sebab tak kenal adanya entitias Tuhan YME, wanita itu kehilangan arah dan mencari pelarian ke dalam kemaksiatan. Dia mabuk dan kehilangan kesadaran. Bahkan, dia punya ide untuk meregang nyawa dengan cara menabrakkan mobil yang dia tumpangi ke sisi jalan. Tanpa pikir panjang, dia banting stir dan DUARRR!

Sayangnya, yang meregang nyawa justru bukan wanita itu, melainkan si putri kembar yang secara kebetulan juga sedang lewat jalan itu menuju gereja. Ayah dan ibu sangat terpukul. Semua media memberitakan kejadian tragis tersebut. Wanita sebagai pelaku pun dikutuk oleh massa sebagai penabrak anak kecil, meskipun tidak disengaja.

Setelah itu, proses hukum dimulai dan wanita mendapatkan ganjaran atas perbuatannya. Di sisi lain, ayah dan ibu sangat merasa kehilangan dan mengadu kepada Tuhan atas apa yang telah menimpa mereka. Ibu berdoa supaya dikaruniai buah hati kembali. Sebaliknya, ayah justru berdoa supaya dua putri kembar mereka dihidupkan kembali. Mendengar doa suaminya itu, ibu jadi terheran-heran. Yang benar saja, orang yang sudah mati tak bisa hidup kembali. Apakah suaminya sudah kehilangan akal? Mereka pun hidup di kota baru dengan pekerjaan yang baru pula. Ayah tidak lagi menjadi pengantar susu.

Waktu berlalu cepat, Tuhan mendengar doa mereka karena Ibu telah hamil kembali. Suka cita hadir di keluarga tersebut. Waktu memeriksa kehamilan ke bidan, ternyata janin mereka kembar dan berjenis kelamin perempuan! Sontak mereka kaget. Apakah doa ayah benar-benar dikabulkan. Karena ibu masih berpikir rasional, ah mungkin itu hanya cocoklogi saja. Mana mungkin anak kembar mereka terlahir kembali.

Sembilan bulan kemudian, ibu melahirkan. Alhamdulillah berjalan lancar. Dua anak kembar mereka pun telah diberi nama. Mereka memerhatikan tanda lahir di setiap bayi tersebut. Anehnya, tanda lahir bayi tersebut sangat persis dengan luka yang diterima mayat putri kembar mereka! Tepatnya ada di dahi dan punggung masing-masing bayi tersebut. Ibu masih tak percaya, ah mungkin hanya kebetulan saja. Sementara ayah sedikit curiga tetapi juga masih ragu.

Bayi itu tumbuh menjadi anak perempuan yang sehat dan ceria. Sekarang, usianya sudah sepantaran dengan si putri kembar saat mereka tewas tertabrak mobil. Sebenarnya, ayah dan ibu tak lagi membahas si putri kembar, move on sembari menjalani kehidupan yang sekarang. Meskipun begitu, barang-barang si putri kembar masih disimpan sebagai bentuk kenang di loteng rumah baru mereka.

Suatu hari, ayah ditanya sama dua anak perempuannya. "Salsabila ada di mana, Ayah?" Hah, salsabila? Ayah bingung. Kayaknya tidak ada anak tetangga yang namanya salsabila. Ada sih, tapi salsabila itu kan bonekanya si putri kembar. Ngapain kedua anak ini mencarinya. Dan yang lebih penting, kok bisa tau??? Ayah pun bertanya, "Maksudmu boneka ya? Kok kamu tahu salsabila?" di jawab sama anak perempuannya, "Itu kan boneka kami, yah" Duarrr! ayah kaget. Apakah anak ini benar-benar reinkarnasi dari putri kembarnya. Tidak mau berpikiran aneh-aneh, ayah langsung mengambilkan saja boneka Salsabila yang mereka pengen itu.

Kemudian, ada suatu momen liburan sekolah. Ayah dan ibu mengajak anak perempuan mereka ke kota kecil yang dulu pernah mereka tinggali. Biasalah, silaturahmi dengan sanak famili di sana. Hawanya sejuk dan enak buat liburan. Kedua anak perempuan kembar itu senang sekali diajak main ke sana. Mereka bersalim-saliman dengan pakdhe, budhe, dan mbah mereka. Maklum, tak pernah sekalipun diajak ayah dan ibu main ke kota ini. Liburan ini baru pertama kalinya.

Ayah dan ibu mengajak jalan-jalan keliling kota dan tiba di sebuah taman. Anak perempuan menyeletuk, "Ayah, Ibu, aku pernah main di taman sini loh!" Kembarannya juga menyeletuk, "Ituuuu! aku juga pernah sekolah di sekolah itu!" Duarrrr! ayah dan ibu kaget. Kok bisa pernah??? padahal baru pertama kali diajak ke kota ini?? Ayah dan ibu memasang muka aneh dan menanggapi anaknya dengan tenang dan sebagaimana mestinya.

Mereka pun akhirnya pulang naik mobil. Anak-anak senang sekali melihat jalanan yang asri dan berlalu lalang kendaraan. Sampai titik lokasi jalan yang mereka lewati membangkitkan kenangan tragis masa lalu yang telah menewaskan putri kembar mereka. Dengan sedih, ayah tetap melajukan mobilnya melewati titik itu. Anak mereka pun untuk kesekian kalinya menyeletuk, "Ayahhh, ibuuu, itu tempat kami dulu meninggal" :(

Komentar

Baca Juga