Peralihan


Ngomong-ngomong soal bacaan cerita, tahun-tahun sebelumnya saya justru lebih banyak baca cerpen daripada novel panjang.

Entah kenapa saya dulu tergila-gila dengan karya sastra yang disebut dengan cerita pendek. Saya sampai-sampai ingin membaca setiap cerpen yang secara sengaja atau tidak sengaja saya temui.

Cerpen menjadi sebuah way of life. Saya mendedikasikan diri untuk mempelajari dan coba menulis cerpen. Banyak sekali cerpen telah saya baca. Salah satu yang menjadi masterpiece adalah cerpen Ray Bradbury berjudul Hujan Berkepanjangan (judul inggrisnya The Long Rain). Menurut saya, cerpen itu sangat menyedihkan. World building singkat, tapi mengena.

Saya sampai membaca cerpen di segala kategori usia. Waktu masih anak-anak, saya juga baca cerpen. Ya termasuk kisah-kisah tradisional yang diceritakan mulut ke mulut. Saya pun ingin tau resep kenapa cerita pendek untuk anak-anak rasanya punya feel yang berbeda dari cerpen lain.

Setelah banyak baca cerpen anak, saya menemukannya. 

Cerpen anak itu punya pola khusus. Konfliknya berulang-ulang. Misalnya cerpen Tiga Babi Kecil dan Serigala. Konflik bahwa rumah mereka bisa dihancurkan itu dibuat berulang-ulang sampai di rumah yang terakhir, serigala sudah tak bisa lagi menghancurkannya.

Termasuk contoh lainnya adalah cerita Serigala dan Biri-birinya Upin-Ipin. Jarjit berbohong berulang-ulang sampai dia kena batunya.
Cerpen anak sangat khas.

Selain cerpen anak, saya juga baca cerpen-cerpen horor dan menyedihkan yang tentunya untuk orang dewasa. Yang paling saya ingat adalah cerpen Rusia berjudul The Armless Maiden yang dikumpulkan berdasarkan cerita rakyat oleh Alexander Afanasyev. Kisah kekejian, kesabaran, dan karma yang sangat epik.

Sampai cerpen Hop-Frog karya Edgar Allan Poe yang syarat akan kritik terhadap kebodohan penguasa saya juga pernah baca.

Bukan sebagai bentuk "umuk" atau "gumedhe", saya cuman berpikir bahwa akhir-akhir ini saya sudah tidak menjadi seperti itu. Saya jadi banyak baca novel dan cerita-cerita panjang lain. Triggernya apa juga tidak tau kok bisa berubah dikit.

Kalau dibanding dengan temen-temen yang udah mulai ngikutin dunia sastra dari smp/mts, bahkan sd. Saya jelas angkat topi. Meski sudah bisa baca sejak sd, saya gak mengikuti dunia sastranya. Bahkan, tau kalau tereliye itu penulis dan tereliye itu eksis pas kelas 8.

Terlepas dari itu semua, saya cuman berharap bahwa dunia literasi semakin membaik. Dan tidak lupa, peringatan untuk diri saya sendiri terutama. Sebanyak apapun buku yang sudah saya baca, paling penting adalah tetap membaca kitab suci alquran alias ngaji. Meskipun masih plegak-pleguk baca alquran, tetap harus ngaji. Seimbang adalah hal yang baik bukan?

Pernah baca cerpen Robohnya Surau Kami karya A. A. Navis? Jangan sampai menjadi sosok Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi yang tidak seimbang dalam hidupnya. Sampai-sampai kakek penjaga surau tersindir hingga... Ah sudahlah. Cerpen yang menyedihkan.

Komentar

Baca Juga