Klise
Hari ini, saya bertemu dengan beberapa orang kenalan. Mengucapkan congratulations atas capaian-capaian perjuangan mereka selama ini. Mungkin ucapan itu terdengar klise bagi mereka dan dianggap hanya sekadar basa-basi belaka. Namun, bukankah itu yang membuat manusia berbeda dengan makhluk lainnya? Kemampuan untuk berbasa-basi dengan baik dan benar.
Saya tidak selalu mencoba memetik hikmah dari apa yang saya alami karena memang tidak semua hal dapat dipetik hikmahnya. Saya hanya kepikiran mengenai satu hal, yaitu kejujuran pada diri sendiri. Apa yang kelihatannya saya mau dan apa yang sebenarnya saya butuhkan.
Orang-orang membangun relationship antar sesama dengan berbagai macam alasan membangun hubungan sosial yang unik. Tidak mirip satu sama lain. Misalnya, pada anime Oregairu terdapat tiga sekawan bernama Hachiman, Yui, dan Yukino. Mereka satu komplotan dan dalam naungan klub sekolah yang sama. Tapi, relationship mereka berbeda dan bahkan saling terbentuk cinta segitiga di antara mereka. Meski sesama anggota klub, relationship mereka tidak mirip.
Saya melihat banyak sekali relationship yang terjalin di antara orang-orang yang saya amati. Hubungan pertemanan, hubungan romansa, hubungan kebencian, hubungan pembuli dengan yang dibuli (dalam tanda kutip), dan macam-macam hubungan lainnya. Ada beberapa dari teman saya yang saya baru tahu bahwa mereka saling punya hubungan romansa. Mereka senantiasa saling menemani saat, ketika, dan setelah sidang. Saling support satu sama lain. Saya ikut senang melihatnya. Terlepas dari urusan kepercayaan yang tentunya tidak membenarkan bahwa hal tersebut boleh dilakukan.
Yang saya harap, mereka dapat mensyukuri apa mereka rasakan saat ini, tidak menyia-nyiakannya, serta tidak melakukan hal yang dapat merugikan mereka di masa depan. Mereka mendapat privilese untuk mengalami hubungan tersebut. Kenapa saya sebut privilese? Karena tidak semua orang dapat mengalaminya. Saya salah satunya.
Saya kadang ingin mempunyai hubungan seperti itu. Setidaknya, saya sudah mencoba. Memang belum se-effort mereka-mereka itu. Hanya sekadar mencoba peruntungan dengan persiapan yang alakadarnya. Baik dari sisi pengalaman dan materi. Mungkin benar yang dikatakan pepatah cina kuno, keberhasilan adalah puncak dari segunung kegagalan.
Bagi orang-orang, cerita kesukses lebih menarik untuk didengar dari pada cerita kegagalan.
Saya bertanya kepada diri sendiri. Sebenarnya hubungan itu untuk saat ini memang saya butuhkan atau tidak? Atau hanya sebuah keinginan semata karena fear of missing out?
Lagu yang dinyanyikan Los Retros liriknya, "My sweetheart, where are you? I need someone to spend my time with. To give and share all my love." Orang butuh partner dalam menghabiskan waktu bersama sembari memberikan dan membagikan rasa cinta kasihnya. Jika tidak punya? Bersama siapa dia akan menghabiskan waktu dan membagikan rasa cinta kasihnya?
Yep, ternyata tidak harus dengan partner jika memang tidak ada. Your friend, your family, your own self bahkan. Kepada semua orang yang kamu kenal kamu dapat menghabiskan waktu dan membagi rasa cinta kasih.
Saya juga kepikiran, mungkin memang fokus saya belum ke arah sana. Dalam alam bawah sadar saya, saya menganggap diri saya masih sebagai anak kecil yang bergantung pada orang lain. Bagaimana bisa dia bertanggung jawab kepada orang lain jika dia tidak bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri?
Saya perlu memahami apa yang sebetulnya saya butuhkan. Saya perlu membentuk prinsip dalam menjalani kehidupan dan punya nilai tersendiri yang unik dari orang lain. Di mata orang yang tepat, prinsip dan nilai diri kita akan menjadi daya tarik tersendiri tanpa kita cari-cari orang tersebut. Saya perlu mengenal dan memahami diri saya sendiri sebelum mencoba mengenal dan memahami orang lain.
Saya juga mempunyai ketertarikan romansa kepada seseorang. Rasanya seperti saya ingin memilikinya. Orang lain tidak boleh. Tapi saya belum siap untuk saat ini. Maka saya keep dulu dengan ikatakan yang semu. Pikir saya seperti itu. Namun, pepatah cina kuno menyatakan bahwa hal tersebut hanyalah keegoisan saya semata. Saya mengikat seseorang demi kepentingan saya sendiri yang tentunya belum pasti juga. Jika memang belum siap, mending tidak usah ke arah sana.
Saya awalnya denial pada pemikiran tersebut, mosok ngono sih? emang ngono? tapi sepertinya bener juga. Jika memang jodohe pasti wes dikeepke sama gusti Allah. Saya yang perlu mempersiapkan diri sesiap mungkin. Meski kapan pun kita mempersiapkan ya ndak bakal siap siap juga sih, yang penting lebih siap daripada sebelumnya.
Yowis, akhirnya saya melonggarkan pikiran saya terhadap hal tersebut. Wes ngene sek wae. Dunia ini tidak melulu tentang kita, bisa jadi hanyak ada aku, diriku, dan pikiranku. Jika ditanya, "ngopo koe gak golek pacar?" mungkin tak jawab, "doso." Wes ngono wae rampung. 😂
Tapi untuk sekarang, memang ada someone I want to be my life partner. Patut untuk dicoba kembali.








Komentar
Posting Komentar
silakan berkomentar!