Cerpen Lilie
Aku baru saja sampai di losmen tempat tinggalku di perantauan. Seperti biasa, suasana sepi dengan ambiens malam yang khas. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan apa yang aku rasakan kurang dari dua puluh empat jam yang lalu. Kemarin malam, aku masih berada di kampung halaman bersama segenap keluarga yang hangat. Ramai, banyak saudara, baik kandung maupun sepupu. Ramai, dan aku suka itu. Lusa sudah masuk semester baru dan terpaksa aku kembali ke sini. Baiklah, mau bagaimana lagi. Sekarang kunikmati saja suasana malam nan syahdu dengan ingatan perjalanan tadi yang sangat berkesan.
Notifikasi Instagram muncul pada layar gawai. Belum kubuka, tapi seperti notifikasi pesan langsung pada umumnya, tampak tulisan yang membuatku mengernyitkan dahi. "Before Sunrise Moment?"
Aku penasaran maksud dari pesan itu. Setelah kubuka, aku baru tahu konteks apa yang dimaksud temanku melalui pesan langsung Instagram tersebut. Dia membalas Instastoryku tentang aku yang bertemu dengan sesosok teman perjalanan yang begitu mengesankan. Maksud dari Before Sunrise Moment adalah adegan yang kualami hampir mirip dengan adegan pada film tersebut. Ya benar, Before Sunrise adalah salah satu film bergenre romansa yang cukup terkenal yang dirilis tahun 1995. Sungguh film lawas yang old but gold.
Dua hari sebelumnya.
Aku mendapat surat pemberitahuan bahwa semester baru di mulai lebih cepat dari yang ditentukan sebelumnya. Sial, tiket kereta murah yang sudah aku beli akan hangus karena harus ganti jadwal. Aku buka-buka aplikasi KAI Access dan mulai mencari-cari tiket kereta paling murah sebelum semester baru di mulai. Untung, nasib baik masih mendukungku. Ada satu tiket kereta murah karena periode promo liburan belum selesai. Tiket didiskon tiga puluh persen! Tanpa pikir panjang, aku pesan tiket tersebut. Sayangnya, kursi pinggir jendela kesukaanku sudah habis dipesan orang. Tidak apa, yang penting dapat tiket murah.
Sehari sebelum keberangkatan, aku mulai menyiapkan barang bawaan. Aku juga jalan-jalan untuk terakhir kalinya sebelum kembali ke perantauan. Aku bertemu kawan lama, jajan, ngobrol ringan, serta berbagi cerita kehidupan yang telah kita lalui. Benar-benar di hari itu, aku merasa nostalgia bersama kawan-kawan lamaku. Di rumah, aku juga memakan masakan Ibu untuk terakhir kali sebelum pergi ke perantauan. Sampai-sampai, masakan Ibu aku bawa sebegai bekal makan siang di kereta keesokan harinya.
Pukul sebelas siang keesokan hari.
Ayah dan Ibu mengantarku ke stasiun terdekat. Aku berpamitan dan berharap dapat bertemu mereka kembali beberapa bulan ke depan saat liburan semester. Tidak ada drama menangis karena memang sudah terbiasa pulang dan pergi ke perantauan. Seperti biasanya, perjalanan kereta yang bosan sudah menghantui pikiranku sehingga tak lupa kubawa sebuah buku novel sebagai teman perjalanan. Soalnya, aku tidak tahu siapakah orang yang akan duduk di sampingku. Apakah orangnya asik? Apakah orangnya tertutup? Atau apakah orangnya banyak ngoceh yang sampai dapat mengganggu istirahatku di kereta? Entahlah, tak ada yang tahu.
Namun, perjalanan kereta kali ini sangat istimewa. Orang yang akan duduk di sampingku adalah Mbak-Mbak Dewasa yang sangat kukagumi. Sampai-sampai, aku masih teringat akan dirinya setelah berpisah di stasiun tempat tujuan.
Jadwal kedatangan kereta sebentar lagi, semua penumpang yang akan naik telah bersiap-siap. Saat kereta datang, semua sudah berjejer rapi dan masuk ke gerbong sesuai tiket yang dipesan. Aku masuk ke gerbong tiga dengan kursi berkode delapan C. Jelas, kursi berkode ini bukan di samping jendela, yang samping jendela adalah kursi berkode delapan D. Saat kusampai pada kursi tersebut, kursi berkode delapan D diduduki oleh Mbak-Mbak Dewasa yang tampak memalingkan muka mengehadap ke jendela. Seperti tidak peduli dengan siapapun yang akan duduk di sebelahnya selama delapan jam ke depan. Tidak masalah, memang lebih baik begitu supaya kita berdua tenang menjalani hidup masing-masing.
Barang bawaanku berupa koper dan tas punggung berisi laptop. Koper kujinjing hingga masuk ke tempat penyimpanan barang di langit-langit kereta. Aman dan kokoh, jangan sampai kejadian dua tahun lalu terulang kembali. Ada koper runtuh dari tempat penyimpanan barang di langit-langit kereta, sialnya itu menimpaku! Aku duduk dan mencoba ikut tidak peduli dengan Mbak-Mbak Dewasa di sampingku.
Aku mencoba membuat diriku senyaman mungkin dengan merebahkan punggung ke kursi kereta. Saat sepertinya kursi masih terlalu tegak, aku memiringkannya sehingga sedikit condong ke belakang. Tidak terlalu condong, aku iba dengan orang di belakangku karena ruang di depannya akan menyempit. Setelah merasa lebih nyaman, aku mencoba memejamkan mata.
Ah sial! Aku ternyata tidak mengantuk. Mataku senantiasa terbuka meski aku sudah coba memejamkannya. Sekarang pasti aku akan mati gaya. Untungnya aku ingat sudah bawa buku novel yang memang niatnya akan aku baca sebagai teman perjalanan kereta. Kuambil lah buku novel di dalam tas yang kutaruh di depanku. Saat mulai bergerak, ekor mataku me-notice ada sesuatu yang aneh.
Hmmmmmmm, sepertinya aku pernah melihat benda itu di suatu tempat. Ya, aku pernah melihatnya di Gramedia. Langsung kucuri-curi pandang terhadap benda itu dari pangkuan Mbak-Mbak Dewasa di sebelah. Ah, buku novel dengan judul Sisi Tergelap Surga. Penulisnya sama dengan penulis buku novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, buku novel bagus yang dibaca kawanku beberapa minggu terakhir. Aku tahu itu dan punya segudang bahan obrolan jika berani membukanya terlebih dahulu. Aku hanya merasa terkejut ada orang lain yang membaca buku novel Sisi Tergelap Surga di kereta.
Akan tetapi, aku tidak berani membuka obrolan terlebih dahulu. Aku sadar posisi. Berdasarkan cerita kawan perempuanku saat naik kereta, mereka sering bersebelahan kursi dengan pria-pria aneh. Bahkan ada yang sampai berpegangan tangan karena mungkin merasa nyaman satu sama lain. Mungkin iya bagus seperti mendapat jodoh di gerbong kereta, tetapi sialnya pria tersebut justru meneror kawan perempuan saya karena sempat membagi informasi media sosial dan nomor WhatsApp. Akhirnya pria itu diblokir supaya tidak mengganggu lagi. Rasanya, di tempat umum, pria akan lebih aman jika memilih untuk tidak bertindak apa-apa. Tidak usah membuka obrolan lebih dulu dengan perempuan asing. Tidak usah menyapa dengan perempuan asing. Tidak usah melirik-lirik dengan perempuan asing. Tidak usah menaruh peduli berlebihan dengan perempuan asing. Serta berbagai tindakan lainnya terhadap perempuan asing. Sebab, hal itu sangat berbahaya dan mengancam keselamatan pria. Sebagai pria yang baik, saya memercayai itu dan memilih untuk diam meski saya ingin sekali membahas buku novel berjudul Sisi Tergelap Surga itu. Kini, meski kami duduk bersebelahan, seperti ada garis pemisah di antara kami, yang membedakan duniaku dengan dunianya.
Aku telah meraih buku novel yang kubawa sendiri. Mulai membacanya lembar demi lembar sampai mencapai klimaks cerita dalam buku novel tersebut. Saat mulai bosan, aku hendak memasukkan buku novel ke dalam tas kembali.
Tiba-tiba, telingaku mendengar suara seseorang yang tak pernah kukenal sebelumnya. Oh sial, pasti ini suara Mbak-Mbak Dewasa di sebelahku. Wajahku masih menunduk menghadap ke dalam tas.
"Mau ambil, Mas?" kata Mbak-Mbak Dewasa.
Hah! ambil barang apakah yang dimaksud? Aku panik. Namun, dengan cepat kuangkat kepala dan memastikan barang apa yang sedang ditawarkannya.
"Oh, makasih, Mbak," balasku dengan mengangkat tangan tanda penolakan. Aku berterima kasih karena sudah ditawari. Ternyata, Mbak-Mbak Dewasa menawariku setoples buah anggur segar. Sebenarnya aku mau, tetapi karena sungkan akhirnya aku tolak.
Ya, karena aku menolak, Mbak-Mbak Dewasa menarik kembali toplesnya dan melanjutkan melahap anggur segar bekal perjalanannya. Oh tuhan, akhirnya aku mendengar suara merdu dari Mbak-Mbak Dewasa itu. Tawaran singkat itu membuatku percaya bahwa Mbak-Mbak Dewasa telah menaruh sedikit kepercayaan terhadapku bahwa aku adalah orang yang baik. Entahlah, mungkin hanya perasaanku atau memang sejatinya seperti itu.
Karena tawaran itu, aku menjadi lebih percaya diri untuk mulai membuka obrolan. Saat hendak memulai, pikiranku campur aduk. Susunan bahan obrolan sedang kurancang. Beberapa bahan obrolan sudah siap, setidaknya cukup buat mengobrol beberapa waktu. Sisanya biarkan lah skill ngobrolku yang berjalan dengan sendirinya. Nanti juga akan mengalir sendiri seperti aliran sungai di kaki gunung.
Inilah saatnya aku beraksi, "Eum, baca juga Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati?" Damn, kutunggu respon darinya.
Oh, beribu sayang, Mbak-Mbak Dewasa belum membaca buku novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Aku panik. Aduh, apalagi ini yang harus kukatakan untuk menimpalinya. Syukurlah, Mbak-Mbak Dewasa langsung melanjutkan jawabannya, "Aku dapat novel ini dari teman, sebuah hadiah."
Lalu aku berkata, "Oh dari teman." Ayolah lanjutkan pembicarannya. Cari bahan apalagi yang harus disebutkan untuk ngobrol dengannya.
Tiba-tiba Mbak-Mbak Dewasa menanyaiku kembali. Aduh, keren sekali, beliau bisa tahu kondisi di mana saat yang tepat untuk mengisi kecanggungan obrolan. "Suka baca juga, Mas?"
Jelas, kalau pertanyaannya seperti itu, aku langsung bisa menjawabnya. "Iya saya suka baca buku, Mbak. Bisa dibilang maniak buku, hehe."
"Wah keren, saya sebenarnya nggak yang rajin baca buku. Kalau ada yang ngasih buku, baru mau baca," balas beliau mulai membuka tentang dirinya. "Siapa penulis favorit?"
"Kalau penulis Indonesia, saya suka baca novelnya Tere Liye, terlepas dari sikap beliau yang kadang mengambil sikap tidak populis sehingga sering dianggap masalah oleh khalayak umum. Terutama suka baca novel Tere Liye yang seri Bumi. Kalau seri yang lainnya baru tahu aja, belum baca," balasku agak panjang tentang penulis favorit. "Selain itu, ada juga penulis yang ingin sekali saya baca karyanya, tetapi belum kesampaian sampai sekarang. Namanya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie dengan novelnya yang berjudul Kita Pergi Hari Ini," lanjutku. Di akhir, aku menanyai kembali Mbak-Mbak Dewasa itu, "Mbak suka sama tulisannya Brian Khrisna?"
"Belum tahu, baru mau baca novel Brian Khrisna yang ini," kata beliau sambil menunjukkan buku novel Sisi Tergelap Surga.
Aku menimpalinya dengan sedikit pengetahuanku terhadap beberapa isi novel karya Brian Khrisna. "Novel Brian Khrisna yang Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati kata teman saya yang pernah baca bagus, Mbak. Menceritakan orang yang mau bunuh diri, tetapi ingin makan mie ayam langganannya dulu. Eh, penjualnya ternyata tidak jualan. Ya gitu deh. Bisa dikatakan buku self development berkedok novel."
"Apa?" jawab beliau bingung.
"Buku self development berkedok novel," balasku mengulangi. Terlihat raut muka beliau telah paham dengan apa yang kumaksudkan. "Ya, mirip-mirip dengan buku novel The Midnight Library karya Matt Haig." Selanjutnya, aku menceritakan sedikit kisah Nora Seed, tokoh utama dalam novel tersebut, yang berjuang dalam keadaan antara hidup dan matinya untuk menemukan arti rasa syukur dalam hidupnya.








Komentar
Posting Komentar
silakan berkomentar!