Ngomongin Kelahiran
Kelahiran atau fertilitas merupakan salah satu bagian dari bahasan ilmu demografi atau kependudukan secara umum. Masalah terkait kependudukan berkaitan erat dengan peristiwa kelahiran manusia. Jika terlalu banyak manusia yang lahir atau terlalu sedikit manusia yang lahir, akan sama-sama menimbulkan masalah kependudukan.
Pertama, jika terlalu banyak manusia lahir, maka semakin banyak mulut yang harus dikasih makan. Tanggungan orang dewasa yang masih produktif semakin berat. Fasilitas dasar yang belum mampu mengimbangi pertambahan manusia akan memperburuk keadaan. Manusia-manusia yang lahir ini akan mengalami nasib buruk dalam konteks sulit memperoleh pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Solusi yang ditawarkan salah satunya adalah one child policy. Dalam kasus ekstrim adalah yang dilakukan oleh Thanos, men-snap sehingga setengah populasi dunia lenyap.
Kedua, jika terlalu sedikit manusia lahir, maka dunia akan kekurangan tenaga atau sumber daya manusia untuk menggerakkan segalanya di masa depan. Hal ini juga berkaitan dengan konsekuensi solusi dari Thanos di atas.
Taruhlah, terdapat pabrik yang punya 10 alat pemintal benang, 10 alat pemintal itu dioperasikan oleh 10 karyawan. Tiba-tiba setengah populasi karyawan hilang (dalam kasus Thanos) atau setengah populasi karyawan meninggal dan tak ada calon karyawan baru (dalam kasus terlalu sedikit manusia lahir). Maka pabrik itu akan mengalami kerugian sebab 5 alat pemintal tidak ada yang mengoperasikan.
Bayangkan itu terjadi pada dunia perekonomian yang begitu kompleks dan berhubungan dengan hajat hidup orang banyak.
Standar bagi tingkat kelahiran di dunia adalah 2,1. Dalam artian, jika ada 10 orang perempuan, maka diharapkan dapat melahirkan 21 manusia. Nilai 0,1 ditambahkan untuk mengantisipasi kalo ada manusia yang gagal hidup sampai dewasa. Dalam sudut pandang lain, sepuluh pasang suami istri punya masing 2 anak, dan salah satu di antaranya punya 3 anak. 2 manusia yang lahir tersebut, diharapkan minimal dapat menggantikan kedua orang tuanya di masa depan.
Berdasarkan standar tersebut, solusi one child policy tampak kurang make sense. Akan terjadi penurunan penduduk sampai setengah populasi di masa depan. Ibarat kata, dua orang tua hanya digantikan satu anaknya.
Di masa depan, saat sumber daya alam benar-benar langka, kebijakan ini mungkin terdengar make sense supaya orang yang dikasih makan semakin sedikit. Namun, harus menanggung konsekuensi banyak instrumen instrumen penunjang kehidupan yang berhenti operasi karena kurang sumber daya manusia yang mengoperasikanya.
Salah satu film yang membahas hal tersebut adalah What Happened to Monday (2017). Namun, penegakan one child policy di film tersebut sangatlah ekstrim.
Siblings (anak-anak tambahan) wajib diserahkan kepada pemerintah untuk dimasukkan ke dalam kotak pembekuan. Pengakuan mereka, siblings tersebut akan dibangunkan saat dunia sudah menjadi lebih baik beratus atau berjuta tahun ke depan. Para orang tua yang punya anak siblings ini sangat terpukul karena sama saja ia telah kehilangan anaknya selamanya.
Di film itu, kebetulan ada 7 saudari kembar plek-ketiplek yang selamat dari one child policy. Mereka hidup sampai dewasa dengan satu identitas saja dan bergantian keluar seminggu sekali (1 saudari 1 hari). Film itu bercerita mengenai perjuangan mereka mengungkap bobroknya praktik one child policy dari pemerintah.
Jika manusia belum lahir, maka bisa dilakukan kebijakan seperti pencegahan kehamilan dan sejenisnya.
Jika manusia telah lahir, maka tidak bisa merenggut hak hidup manusia tersebut meski dengan dalih kekurangan sumber daya untuk memberi makan.
Mencegah kelahiran bisa dilakukan, tapi kalo sudah lahir yasudah gapapa. Jangan malah dibekukan dalam kotak, dibuang, atau dibunuh :(
Tidak ada anak yang ingin meminta secara pribadi untuk dilahirkan. Mereka lahir karena keinginan orang tuanya. Namun, seringkali ada orang tua yang lalai akan hal sederhana seperti itu.








Komentar
Posting Komentar
silakan berkomentar!